Dalam dunia industri kosmetik, akurasi pengukuran pH menjadi salah satu faktor krusial untuk menjaga kualitas dan keamanan produk. Hal ini menjadi fokus praktik kerja lapangan (PKL) dari mahasiswi Program Studi S1 Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), saat magang di PT. Rembaka (La Tulipe) yang dilakukan pada bulan Juni 2025 kemarin.
Pengalaman PKL tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan pH-meter digital jauh lebih andal ketimbang kertas indikator universal dalam kontrol kualitas produk kosmetik. Ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi akademik dan industri sangat penting untuk kemajuan ilmu kimia dan peningkatan mutu produk di Indonesia.
Berdasarkan observasi dan metodologi yang digunakan selama PKL, ia melakukan perbandingan antara dua metode pengukuran pH yang umum digunakan dalam industri antara lain pH-meter digital yang dikalibrasi menggunakan larutan buffer standar (pH 4,01; 7,00; dan 10,01) dan kertas indikator universal dengan pembacaan warna manual.
“pH meter terbukti memberikan hasil yang lebih stabil dan presisi, yang penting dalam menjamin keamanan dan konsistensi produk kosmetik, Ini menjadikannya alat esensial dan tak tergantikan bagi industri yang berkomitmen pada kualitas produk tertinggi,” mahasiswi PKL tersebut menjelaskan. Hal ini didasarkan pada pembacaan dengan pH-meter menghasilkan pH sebesar 4,31, yang menunjukkan akurasi yang tinggi dan konsistensi secara digital. Sedangkan, kertas indikator universal hanya memberikan nilai estimasi pH 4, yang bersifat semi-kuantitatif dan kurang presisi.
Perbandingan: Praktis vs Presisi
Kertas Universal
Kelebihan : mudah digunakan, tersedia luas, biaya rendah—ideal untuk pengujian cepat atau edukasi sederhana.
Keterbatasan: rentan kesalahan interpretasi visual dan kurang akurat untuk aplikasi industri yang membutuhkan ketelitian tinggi.
pH-Meter Digital
Keunggulan: Akurasi dan presisi tinggi (hingga dua–tiga angka desimal), pembacaan objektif dan konsisten (digital), bisa dikalibrasi secara berkala dan memiliki rentang pengukuran komprehensif (pH 0–14).
Tantangan: memerlukan investasi awal lebih besar dan perawatan rutin seperti kalibrasi dan penyimpanan elektroda dalam larutan khusus.
Penelitian ini memberikan kontribusi akademis sekaligus praktis yang signifikan untuk industri kosmetik. Data empiris ini mendukung pengambilan keputusan perusahaan terkait investasi alat kontrol kualitas dan standarisasi prosedur industri. Selain itu, pengalaman PKL seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di kampus secara langsung di dunia industri.